[gview file=”http://mp3.radiokita.or.id/buletin/67_Sebenarnya%20Yang%20Ditanganmu%20Sudah%20ukup.pdf”] Banyak manusia yang memiliki harta yang melimpah ruah, namun jarang yang memiliki sifat mulia, yaitu qana’ah (merasa cukup dengan nikmat pemberian dari Allah). Di sisi lain banyak orang yang fakir dan tidak diberi keluasan rizki, hari demi hari ia isi dengan celoteh tidak terima, menggugat takdir dan merasa hina.
Padahal jika seseorang muslim memiliki sifat qana’ah tersebut ia seakan-akan memiliki dunia dan seisinya, baik dalam kondisi kaya maupun miskin. Jika memilikinya, ia tidak tamak pada harta orang lain dan juga selalu ridho dengan takdir Allah. Ia pun yakin segala harta yang telah ditetapkan oleh Allah itulah yang terbaik, seberapapun jumlahnya.
Jika Anda Mendapat Tiga Nikmat Ini di Pagi Hari
Dalam sebuah hadits yang mulia, Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia dengan segala isinya telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi no. 2346, Ibnu Majah no. 4141. Abu Isa At Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan gharib).
Hadits ini menunjukkan bahwa tiga nikmat di atas jika telah terkumpul dalam diri seorang muslim, maka itu sudah merupakan nikmat yang besar. Siapa yang di pagi hari mendapatkan tiga nikmat tersebut berarti ia telah memiliki dunia seisinya. (Lihat Rasysyul Barad Syarh Al Adab Al Mufrad hlm. 160).
Al Jahidz menerangkan makna qana’ah, ‘Merasa cukup dengan kehidupan yang muncul di permukaan, ridha dengan penghasilan yang mudah, tidak bersemangat untuk mengumpulkan harta dan mencari penghasilan tinggi diiringi dengan kecintaan dalam semua itu.’ (Tahdzib Al Akhlak, Al Jahidz, dengan perantara Nadhrah An Na’im 8/3168)
Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa asal kata qana’ah adalah dari lafadz Al Qana’, yaitu penutup kepala. Karena saat itu orang memakai penutup kepala untuk menutupi kefakirannya, dan jika ia melepas penutup kepalanya berarti dia sedang membuka kepalanya untuk meminta-minta. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ar Raghib Al Asfahani. (Mufradat Al Qur’an hlm. 686)
Anjuran Bersikap Qana’ah
Rizki yang disebutkan dalam hadits di atas dikatakan cukup dan patut disyukuri. Inilah sifat qana’ah yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Orang yang qana’ah adalah orang yang beruntung sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah r bersabda:
“Sungguh beruntung orang yang diberi petunjuk dalam islam, diberi rizki yang cukup, dan qana’ah (merasa cukup) dengan rizki tersebut.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Maka dia tidak lagi mencari tambahan, karena ia tahu bahwa rizkinya telah dibagikan dan tidak akan lari apa yang telah ia takdirkan untuknya.
Dalam menerapkan qana’ah, Rasulullah r telah memberikan contoh kepada kita sebagai panutan untuk kita renungkan dan kita cermati bersama. Beginilah Rasulullah memandang dan berinteraksi dengan dunia, sebagaimana yang diceritakan oleh Ummul Mukminin.
Aisyah berkata kepada ‘Urwah anak saudaranya, “Sesungghunya kami memandang rembulan dan rembulan berikutnya, tiga rembulan selama dua bulan, tidak pernah ada api dinyalakan di rumah Rasulullah r.”
Maka ‘Urwah bertanya, “Wahai bibiku, lantas dengan apa kalian hidup?”
Aisyah menjawab, “Dengan Al Aswadan, yaitu kurma dan air putih, hanya saja terkadang tetangga Rasulullah dari kaum Anshar memberikan susu hewan mereka kepada beliau dan beliau memberi minum kami dengannya.”
(HR. Bukhari no. 6459 dan Muslim no. 2973 dengan lafadz Al Bukhari).
Dan dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa kasur beliau terbuat dari kulit binatang sementara isinya adalah sabut (rumput kering). Menunjukkan bahwa kemewahan dunia tidaklah nyata.
Lihat Orang Yang Di Bawahmu
Rasulullah bersabda:
Dari Abu Hurairah t, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda, “Lihatlah pada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah perhatikan orang yang berada di atas kalian. Lebih pantas engkau berakhlak seperti itu sehingga engkau tidak meremehkan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepadamu.” (HR. Ibnu Majah no. 4138, Shahih menurut Syaikh Al Albani).
Perintah melihat orang yang di bawahnya adalah dalam urusan dunia. Karena tatkala manusia melihat kepada orang yang melebihi dirinya dalam kenikmatan dunia, dirinya menjadi tertarik dan merasa sangat sedikit kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya, ia menjadi terdorong untuk menambah agar mencapai derajat orang tersebut atau mendekati posisinya. Sedangkan jika ia melihat ke bawah ia akan mensyukuri nikmat dan rendah diri serta memuji Allah. (Mashabih Tanwir, Mukhtashar Faidhul Qadir Al Munawi 1/70).
Selayaknya hamba tidak melihat keindahkan pecinta dunia, karena itu membuatnya tertarik untuk terjerumus di dalamnya. Allah I berfirman:
“Dan janganlah engkau tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami Berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan dunia, agar Kami Uji mereka dengan (kesenangan) itu. Karunia Tuhan-mu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thaaha ayat: 131)
Abu Dzu’aib Al Hudzali dalam syairnya mengatakan:
‘Jiwa menjadi ingin sesuatu jika kamu jadikan ia menginginkannya
Dan jika kamu berikan sesuatu yang sedikit ia akan merasa cukup dengannya.’
Kaya Hati Adalah Kaya Yang Sebenarnya
Disebutkan dalam hadits Abu Hurairah t berikut:
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah r bersabda, “Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah dengan hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446, Muslim no. 1051).
Dalam hadits di atas terdapat pelajaran berharga dari Ibnu Baththal rahimahullah di mana beliau menjelaskan hadits dalam shahih Bukhari:
‘Yang dimaksud kaya bukanlah dengan banyaknya perbendaharaan harta. Karena betapa banyak orang yang telah dianugerahi oleh Allah harta malah masih merasa kurang. Ia ingin terus menambah dan menambah. Ia pun tidak ambil peduli dari manakah harta tersebut datang. Inilah orang yang fakir terhadap harta (tidak merasa cukup dengan harta). Sikapnya demikian karena niatan jelek dan kerakusannya untuk terus mengumpulkan harta.
Padahal hakikat kaya adalah kaya hati, yaitu seseorang yang merasa cukup dengan yang sedikit yang Allah berikan. Ia pun tidak begitu rakus untuk terus menambah, tidak pula memaksa diri dalam mencarinya. Seakan-akan dia kaya dan selalu mendapatkan rizki.
Kaya hati adalah pintu ridha dengan ketentuan Allah dan berserah diri kepada takdirnya, ia tahu bahwa yang di sisi Allah lebih baik untuk orang-orang yang baik. Dan dalam ketentuannya untuk para wali-Nya yang terpilih. Al-Hasan meriwayatkan dari Abu Hurairah, ‘Rasulullah berkata padaku, ridha-lah dengan pembagian Allah engkau akan menjadi manusia yang paling bersyukur’. (Syarh Shahih Bukhari, Abu Hasan Ali bin Baththal Al Qurthubi 10/165).
Imam Nawawi rahimahullah berkata, ‘Siapa yang terus ingin menambah dan menambah lalu tidak pernah merasa cukup atas apa yang Allah beri, maka ia tidak disebut kaya hati.” (Syarh Shahih Muslim 7/140)
Imam Syafi’i rahimahullah mengata-kan dalam bait syairnya:
Kulihat qana’ah adalah puncak kekayaan
Maka aku pun berpegang pada ekor-ekornya
Sehingga tidak ada yang melihatku berada di pintu kekayaan
Dan tidak pula melihatku bersungguh-sungguh dengan -kekayaan- itu
Aku menjadi kaya walau tanpa satu dirham pun
Yang berjalan di antara manusia seolah-olah raja atau orang yang punya. (Diwan As Syafi’i)
Kaya Tak Mengapa, Asalkan…
Rasulullah r bersabda:
“Tidak mengapa seorang itu kaya asalkan bertakwa. Sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan hati yang bahagia adalah bagian dari nikmat.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69, Shahih menurut Syaikh Al Albani).
Tidak mengapa kaya asalkan bertakwa. Yang namanya bertakwa, selalu merasa cukup dengan kekyaan tersebut. Ia tidak rakus dengan terus menambah. Kalaupun menambah karena hartanya dikembangkan, ia pun merasa cukup dengan karunia Allah yang ada. Dan yang namanya bertakwa berarti selalu menunaikan kewajiban yang berkaitan dengan harta tersebut melalui zakat, menemput jalan yang benar dalam mencari harta dan menjauhi cara memperpleh harta yang diharamkan Islam.
As-Sindi menukil dari As-Suyuthi, ‘Kekayaan tanpa ketakwaan adalah kebinasaan, seseorang mengumpulkan kekayaan tersebut dengan tidak benar, menahannya tidak benar pula, serta meletakkannya tidak benar. Adapun jika dia memiliki ketakwaan, bencana tersebut sirna dan kebaikan tiba.” (Hasyiah As-Sindi 4/370)
Sebagian ulama mengatakan, ‘Seorang budak hakikatnya orang merdeka jika dia bersikap qana’ah, dan seorang yang merdeka hakikatnya adalah seorang budak jika dia bersikap tamak.’
Ya Allah, anugerahkan kami sifat yang mulia ini. Semoga kami menjadi hamba yang qana’ah dan kaya hati, yang dianugerahi hati yang selalu merasa cukup.
Dari Abdullah bin Mas’ud t, beliau berkata bahwa Nabi r biasa membaca do’a:
‘Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, kesucian dan kecukupan.’ (HR. Muslim no. 2721)

Ustad Sona