[gview file=”http://mp3.radiokita.or.id/buletin/Perhatikan%20Amal%20Terakhirmu.pdf”]PERHATIKAN AMALAN TERAKHIRMU !
Berapa umur Anda saat ini? Terkadang seseorang merasa bahwa ia masih muda, sehingga lalai berbekal untuk akheratnya. Ia lupa bahwa kematian tidak selalu harus menunggu tua. Sebaliknya seseorang yang sudah kelihatan tanda-tanda-tanda “ujung finishnya” karena umurnya sudah tua, sesungguhnya bisa dikatakan keterlaluan bila ia masih sibuk dengan urusan dunianya. Seolah dunia yang telah dikaruniakan kepadanya belumlah cukup, seakan bekal untuk akheratnya sudah lebih, dengan sedekah-sedekah yang dikeluarkannya. Ia tak merasa bahwa urusan dunia telah menjeratnya sehingga tak cukup waktu baginya memikirkan urusan akheratnya.

Berapa pun umur kita, perlu kiranya kita mengevaluasi diri terhadap amal-amal yang telah kita kerjakan sampai sekarang. Apakah tauhid kita sudah benar tanpa tercampuri dengan keyakinan dan amalan-amalan yang menodainya (kesyirikan), apakah ibadah-ibadah yang kita kerjakan sudah sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu’alaihi wasalam sebagai salah satu syarat diterimanya amal selain ikhlas dan sebagainya. Maka seharusnya setiap diri merasa bahwa kematian itu terus membuntuti kita, kemana pun kita pergi. Tidak peduli, apakah kita sedang sakit ataukah sehat, apakah kita sudah tua atau masih remaja. Maka untuk itulah kita berusaha senantiasa menjaga dari perbuatan maksiat dan selalu mengupayakan untuk berbuat taat kepada Allah. Kita berusaha semaksimal mungkin mengisi sisa umur dengan sebaik-baiknya untuk bekal akherat kita. Kelak, saat kematian menjemput, Allah mentaqdirkan kita dalam keadaan khusnul khotimah.

Bukankah sesungguhnya modal utama yang dimiliki seorang hamba di dunia ini adalah umurnya? Jika ia gunakan umurnya untuk berbuat baik dan taat kepada Allah, niscaya ia akan meraih keuntungan yang besar dan keselamatan yang abadi di akhirat. Namun jika ia gunakan masa hidupnya di dunia yang fana nan sebentar ini untuk berbuat dosa dan maksiat kepada Allah, maka pasti ia akan mendapat kerugian yang besar serta merasakan kesengsaraan dan kebinasaan yang abadi di alam akhirat kelak.

Oleh karena itu, orang yang pandai dan beruntung di dunia dan akhirat ialah siapa saja yang dapat mengekang dan menundukkan hawa nafsunya, serta membimbingnya untuk senantiasa memperbanyak amal sholih sebagai bekal perjalanan hidupnya menuju ke alam akhirat yang kekal nan abadi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sungguh telah beruntung orang yang mensucikan jiwanya. Dan sungguh telah merugi orang yang mengotori jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Ayat tersebut menjelaskan, orang-orang yang beruntung dan bahagia yaitu orang yang mensucikan jiwanya dengan melakukan amal-amal kebaikan dan ketaatan kepada Allah, mengikuti petunjuk Rasul-Nya, serta membersihkannya dari akhlaq tercela dan berbagai hal yang hina. Sebaliknya kelompok orang-orang merugi sebesar-besarnya, yaitu siapa saja yang mengotori jiwanya menghinakan dan menjauhkan dari petunjuk sehingga dia berbuat maksiat dan melalaikan kewajiban-kewajibannya kepada Allah, melanggar larangan-laranganNya, serta melumuri jiwanya dengan noda-noda dosa.

Dan hal ini senada dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Orang yang pandai ialah siapa saja yang menundukkan hawa nafsunya dan beramal untuk hari setelah kematian (yakni hari akhirat). Sedangkan orang yang lemah (bodoh) ialah siapa saja yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan kepada Allah (tapi tanpa beramal,- pent).”
(HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, Al-Baihaqi, Ath-Thobroni dan selainnya. Derajat hadits ini secara sanad dinyatakan dho’if oleh Syaikh Al-Albani, namun maknanya shohih).

Berdasarkan kedua ayat dan hadits di atas, marilah kita semua bersungguh-sungguh dalam melakukan amal-amal kebajikan dan ketaatan kepada Allah, serta menjauhi segala perbuatan dosa dan maksiat hingga kematian menjemput kita.

Allah Ta’ala memperingatkan kita dengan firman-Nya:

“Beribadahlah engkau kepada Tuhan-Mu hingga datang kepadamu kematian.”
(QS. Al-Hijr: 99)

Dan juga dikarenakan kebahagiaan dan kesengsaraan seorang hamba itu tergantung pada amalan-amalan terakhirnya yang menjadi penutup kehidupannya di dunia ini.

Hal ini berdasarkan hadits yang shohih, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya amalan-amalan (seorang hamba) itu tergantung pada amalan-amalan penutupnya.” (HR. Imam Al-Bukhari).

Maksudnya, amalan terakhir seorang hamba yang menjadi penutup kehidupannya di dunia ini.

Az-Zarqoni rahimahullah didalam Syarah Al-Muwaththo’ menerangkan makna hadits tersebut dengan mengatakan, “Bahwasanya nasib seseorang sangat ditentukan oleh amalan terakhirnya, dan dengan amalan terakhirnya itu ia akan diberi balasan (oleh Allah).” (Lihat Syarhu Al-Muwaththo’ imam Malik)

Maksudnya, barangsiapa yang berpindah dari perbuatan buruk kepada perbuatan baik, maka ia dianggap sebagai orang yang bertaubat kepada Allah. Dan barangsiapa yang berpindah dari keimanan menuju kekufuran, maka ia dianggap sebagai orang yang murtad.

Penafsiran Az-Zarqoni rahimahullah terhadap hadits ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Janganlah kalian merasa kagum dengan amalan seseorang sehingga kalian melihat dengan amalan apa yang mengakhiri hidupnya.” (HR. Ahmad di dalam Al-Musnad. Dan dinyatakan SHOHIH oleh syaikh Al-Albani n Syu’aib Al-Arnauth rahimahumallah)

Disebutkan dalam hadits shohih, bahwa ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berjihad melawan kaum musyrikin, tiba-tiba ada seseorang yang dengan gagah berani menerjang barisan kaum musyrikin dan membabat habis siapapun yang menghadangnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa ia termasuk calon penghuni neraka. Maka para sahabat merasa heran dengan perkataan Nabi tersebut. Akhirnya, ada seorang sahabat yang membuntuti orang pemberani tersebut. Dan ternyata ia menyaksikan secara langsung orang tersebut bunuh diri dengan menusukkan pedangnya ke dalam perutnya. Ia mati bukan karena dibunuh oleh orang musyrik, tapi dia membunuh dirinya sendiri. Maka, sahabat tersebut menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seraya mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah.” Dan ia pun memberitahukan kejadian tersebut kepada beliau. (Makna hadits ini diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari no.2898, dari jalan Sahl bin Sa’ad radhiyallahu anhu).

Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah membawa makna hadits tersebut kepada siapa saja yang beramal sholih namun dengan niat riya’ (pamer) dan atas dasar kemunafikan, maka ia akan mengakhiri hidupnya dengan keburukan. (Na’udzu billahi min dzalik)

Penafsiran ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya ada seorang hamba yang melakukan amalan penghuni surga menurut pandangan manusia, padahal sesungguhnya (di mata Allah) ia termasuk penghuni neraka. Dan ada seorang hamba yang melakukan amalan penghuni neraka menurut pandangan manusia, padahal sesungguhnya (di mata Allah) ia termasuk calon penghuni Surga. Dan sesungguhnya amalan-amalan hamba itu ditentukan oleh amalan penutup (hidup)nya.”
(HR. Al-Bukhari)

Hadits shohih ini menunjukkan kepada kita tentang tidak ikhlasnya niat orang yang beramal sholih tersebut, sehingga Allah menolak amalannya dan akan memasukkannya ke dalam api neraka, meskipun manusia memandangnya sebagai orang sholih calon penghuni surga. Tidak berguna ridho dan pujian manusia, bahkan bisa menjerumuskan niat kita dalam beribadah kepada Allah Jalla wa’ala.

Inilah nasehat singkat agar kita benar-benar bisa mengisi sisa umur kita dengan amalan-amalan ketaatan, dan membiasakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat. Dan semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang beruntung dan bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin.

Drs.Muhammad Yusuf Abu Azzam