[gview file=”http://mp3.radiokita.or.id/buletin/71_Kiat%20Menggapai%20Berkah%20Ramadhan.pdf”]Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh barokah bagi kaum muslimin. Kedatangannya merupakan perkara yang dinanti-nanti oleh setiap kaum muslimin yang jujur keimanannya. Suatu bulan yang akan mendatangkan kebaikan yang banyak dan rahmat Allah I yang melimpah yang tidak didapatkan selain pada bulan ini.
Akan tetapi, berapa banyak di antara kaum muslimin yang tidak menyadari tentang hal ini. Sehingga waktu yang penuh barokah tersebut berlalu begitu saja tanpa membawa manfaat bagi dirinya. Bahkan terkadang di antara mereka tidak sadar akan hal ini, sehingga tidak ada penyesalan sedikitpun atas waktu yang hilang tanpa makna. Sadarkah kita bahwa waktu itu adalah modal terbesar untuk mendapatkan bekal yang baik untuk menghadap Alloh I.
Kurangnya pemahaman dan pengetahuan akan pentingnya menjaga waktu terutama waktu-waktu yang barokah inilah di antara pemicu seorang tidak perhatian terhadap mahalnya akan sebuah waktu. Padahal karena begitu pentingnya akan sebuah waktu, sampai-sampai Alloh bersumpah di banyak surat dengan nama waktu, seperti dalam surat Al-Asr, surat Asy-syams, surat Al-Lail. Dan sebenarnya dengan memperhatikan surat-surat tersebut setidaknya menjadi pertanyaan kepada kita akan penting dari sebuah waktu.
Di antara sekian waktu yang barokah adalah waktu ketika seorang hamba dipertemukan oleh Alloh dengan bulan Romadhon. Bulan ini adalah bulan yang Alloh I memberikan keberkahan dan kebaikan bagi orang yang mau menjaganya. Memang secara dhohirnya waktu di bulan Romadhon seperti waktu-waktu yang lain, dalam artian durasi waktunya sama dengan waktu-waktu yang lain. Akan tetapi ini menjadi berbeda ketika waktu Bulan Romadhon digunakan untuk benar-benar beribadah kepada Alloh sehingga waktu tersebut menjadi barokah dengan menjaga ibadahnya kepada Alloh I.
Bagaimanakah kita menjaga waktu kita sehingga bulan Romadhon akan menjadi bulan yang barokah bagi kita semuanya. Berikut beberapa kiat yang mungkin dapat dipraktekkan untuk mendapatkan keberkahan di bulan Romadhon:
1. Memperbaiki niat
Seorang muslim sebelum memasuki bulan Romadhon hendaknya dia memasang niatnya dengan sebaik-baiknya. Dia harus menyadari bahwa bulan Romadhon adalah bulan yang penuh kebaikan. Dia harus berusaha memantapkan dan menata kembali niatnya bahwa tidak ada aktifitas yang paling baik untuk dikerjakan di bulan Romadhon kecuali beribadah kepada Alloh I
Ketika seseorang mengetahui bahwa tidak ada aktivitas yang paling baik dilakukan oleh seorang hamba di bulan Romadhon kecuali aktifitas ibadah, maka dia akan berusaha melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya. Dan dia akan sadar bahwa ibadah yang dia lakukan di bulan tersebut harus benar-benar karena Alloh I. Jangan sampai motivasi untuk melakukan kebaikan adalah karena manusia, seperti dia berpuasa karena orang-orang yang ada di sekitarnya berpuasa, dia bersedekah karena ingin dikatakan orang yang dermawan, dia khusyuk sholat tarawih agar dia dikatakan orang yang sholeh, dia menyampaikan ceramah di mana-mana padahal minim ilmunya, agar dikatakan penceramah yang ulung, dan lain sebagainya dari niat yang tidak tulus karena Alloh.
Ketahuilah bahwa tidaklah kita diperintahkan untuk beribadah kepada Alloh kecuali kitapun juga diperintahkan agar mengiklaskan niat kita karena Alloh, Alloh I berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”.(Al-Bayyinah : 5)
“Dan Alloh mengetahui apa yang ada di hati seorang hamba, dan tidak akan tersembunyi disisi Alloh sedikitpun dari apa yang ada pada manusia. Sebagaimana Alloh Subhanahu wa ta’ala firmankan:
Katakanlah: “Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu menampakkannya, pasti Allah mengetahui.” Allah mengetahui apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”( Ali-Imron : 29) [1] 2. Perhatian dengan waktu
Waktu yang diberikan oleh Alloh kepada kita akan terus berjalan dan tidak akan pernah berhenti. Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari akan terus berjalan meninggalkan kita dan tidak terasa bahwa semakin bertambahnya waktu semakin dekat pula kita dengan ajal. Jika kita tidak sadar akan pentingnya sebuah waktu maka kelak kita akan menyesal.
Waktu yang diberikan oleh Alloh kepada kita akan ditanyakan oleh Alloh I sebagaimana yang disabdakan oleh Rosululloh r
“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya” HR at-Tirmidzi (no. 2417), ad-Daarimi (no. 537), dan Abu Ya’la (no. 7434), dishahihkan oleh at-Tirmidzi dan al-Albani dalam “as-Shahiihah” (no. 946) karena banyak jalurnya yang saling menguatkan.
Pada hadits di atas menunjukkan kepada kita bahwa salah satu perkara yang akan ditanyakan oleh Alloh adalah umur kita. Dan umur tidak akan terjadi kecuali dengan adanya waktu. Maka waktu adalah umur dan umur adalah waktu.
3. Kontinyuitas dalam ibadah
Menjaga kontinyuitas dalam ibadah adalah perkara yang penting. Karena jiwa kita senantiasa memerintahkah kepada kemalasan dan tidak bersemangat. Apalagi ketika puasa di bulan Romadhon, jiwa ini seakan sulit atau berat untuk melakukan ibadah.
Untuk menghilangkan atau menepis rasa malas perlu kiranya seseorang mengatur waktunya dan mengatur aktifitasnya di antaranya adalah dengan aktifitas yang rutin walaupun sedikit. Sebagai contoh misalnya seseorang ingin membaca Al-Quran atau mengkatamkan Al-Qur’an di bulan Romadhon, maka dia dapat mengaturnya dengan merutinkan kegiatan tersebut. Taruhlah misalnya Al-Qur’an terdiri dari 30 juz, 1 juz terdiri dari l0 lembar (menggunakan mushaf Timur Tengah). Jika kita baca 1 lembar sebelum sholat dan satu lembar setelah sholat fardhu maka satu hari kita sudah dapat membaca Al-Qur’an sepuluh lembar. Kalau dalam satu bulan Romadhon tiga puluh hari maka dia dapat mengkatamkan Al-Qur’an dalam satu bulan. Kalau dia tambah lagi 2 lembar sebelum sholat dan 2 lembar sesudah sholat maka dalam sebulan dia akan mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak dua kali. Demikian seterusnya tergantung seberapa banyak kita mentargetkannya.
4. Mengurangi aktifitas pekerjaan yang menguras tenaga
Mencari nafkah memang sebuah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Akan tetapi seseorang hendaknya juga memperhatikan akan pentingnya bulan Romadhon, di mana bulan Romadhon adalah bulan untuk memperbanyak ibadah kepada Alloh. Kesempatan emas ini jangan dia biarkan berlalu begitu saja tanpa makna. Oleh sebab itu jika memang pekerjaan itu bisa diatur dengan sebaik-baiknya maka aturlah dengan sebaik-baiknya. Bedakanlah aktifitas kerja anda di waktu bulan Romadhon dan di selain waktu bulan Romadhon.
Ketika pekerjaan tersebut harus mengeluarkan tenaga yang besar maka mintalah bantuan orang lain agar dapat meringankan beban pekerjaan anda. Jika pekerjaan tersebut hanya dapat dikerjakan sendiri maka usahakan jangan sampai menguras banyak banyak tenaga sehingga sisa tenaga yang ada pada anda bisa digunakan untuk beribadah , seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, menuntut ilmu dan lain sebagainya.
5. Menjahui senda-gurau yang berlebihan/hiburan
Di antara kelemahan orang yang puasa adalah dia memperturutkan hawa nafsunya. Terkadang karena ingin menghibur dirinya atau menahan rasa lapar sebagian orang yang berpuasa melakukan hal-hal yang sia-sia. Di antaranya adalah dengan senda gurau, mengobrol, mengghibah orang lain sehingga keluar dari lisannya gelak tawa yang tidak bermanfaat.
Orang yang berpuasa hendaknya menjauhi maazib. Maazib adalah alat-alat musik dengan berbagai macamnya seperti kecapi, gitar, qonun, biola, piano, terompet dan lain sebagainya. Alat-alat ini adalah haram dan akan bertambah keharamannya jika diiringi dengan lagu-lagu dengan suara yang indah atau syi’ir-syi’ir yang dapat membangkitkan syahwat. Alloh I berfirman:
“Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (Luqman:6)
Dan telah sah dari sahabat Ibnu Mas’ud bahwasanya tatkala beliau ditanya tentang ayat ini beliau mengatakan :” Demi Alloh yang tidak ada sesembahan kecuali Dia, dia adalah musik”. [2] 6. Isi waktu luang
Jika kita diberikan waktu luang oleh Alloh maka jangan kita sia-siakan kesempatan tersebut. Seperti ketika kita sedang mengantri untuk berobat, menunggu orang tua yang sedang sakit, menunggu iqomah, menunggu waktu berbuka dan lain sebagainya. Maka gunakanlah waktu-waktu tersebut sebaik-baiknya. Barangkali itu hanya lima menit atau sepuluh menit, namun jika kita gunakan untuk membaca Al-Qur’an berapa huruf yang sudah kita baca dan berapa ayat yang sudah kita baca dan berapa pahala yang akan kita dapatkan dengan bacaan kita. Jika satu huruf saja dilipatkan sampai sepuluh kali maka jika kita baca lima ayat atau sepuluh ayat maka alangkah banyaknya kebaikan yang akan kita dapatkan.
Karunia dan rahmat Alloh di bulan Romadhon sangatlah luas maka jangan kita sia-siakan dan ambillah manfaat dari datangnya bulan Romadhon ini.
7. Memanfaatkan momen-momen dilipatgandakannya sebuah amalan.
Di antara rahmat Alloh kepada umat Islam, Alloh memberikan momen-momen atau waktu-waktu yang barokah dilipatgandakannya sebuah amalan. Maka moment tersebut jangan kita biarkan berlalu begiu saja tanpa kita mendapatkannya. Raihlah momen tersebut dengan sebaik-baiknya dan jangan menjadi seorang pemalas dalam mengejar momen tersebut.
Di antara momen penting dan sangat berharga adalah momen ketika malam Lailatul Qodr. Alloh Telah merekomendasikan dalam satu surat yang berisi keutamaan dan fadhilah tentang malam Lailatul Qodr. Menunjukkan kepada kita bahwa malam Lailatul Qodr adalah malam yang sangat penting dan sangat berharga bagi seorang hamba.
Syaikh As-Sa’di dalam tafsirnya mengatakan “Dinamakan lailatul qodr karena agungnya kadar malam tersebut dan keutamaannya di sisi Alloh I. Dan pada malam itulah ditentukan apa yang akan terjadi dalam satu tahun baik berupa ajal, rizki dan ukurannya serta takdir-takdir hambaNya.”
Wallohu a’lam

Penulis : Ustadz Abu Ishlah

End Note:
1. Syarh riyadhus sholihin syaikh Muh bin Utsaimin
2. Majalis syahri romadhon hal 47 syaikh Ibnu Utsaimin

Referensi:
– Syarh Riyadush sholihin Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin
– Majaalis Syahri Romadhon Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin
– Tafsir Karimur Rohman Syaikh As-Sa’di