[gview file=”http://mp3.radiokita.or.id/buletin/65_Kemana%20Sekolah%20Anakmu.pdf”]KEMANA SEKOLAH ANAKMU
Memiliki anak adalah nikmat yang sangat besar. Betapa banyak orang yang mendambakan anak tetapi dia tidak mendapatkannya. Berbagai sarana dan cara dia tempuh untuk mendapatkan momongan buah hati tetapi terkadang tidak juga dia dapatkan. Maka bersyukurlah kepada Alloh Ta’ala atas nikmat berupa anak yang dikaruniakan kepada anda.
Di sisi yang lain karena anak adalah nikmat yang besar maka anak juga merupakan tanggung jawab yang besar di sisi Alloh Ta’ala . Tanggung jawab tersebut tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan pangan sandang dan papan, akan tetapi tanggung jawab pendidikan. Ke manakah arah pendidikan yang seorang anak akan dibawa dengannya, apakah pendidikan yang mengacu dan berorientasi pada dunia saja ataukah yang berorientasi pada akherat.
Pendidikan adalah pondasi untuk membentuk karekter seorang anak untuk menjadi generasi yang baik dan berguna. Maka tidak boleh bagi orang tua sembarangan meletakkan anaknya kepada pendidikan yang tidak bertanggung jawab dalam membentuk kepribadiannya. Jika kepribadiannya buruk maka kelak akan menjadi generasi yang buruk dan tidak bermanfaat bagi dirinya, orang tuanya, maupun lingkungannya. Jika kepribadiannya buruk maka akan menghancurkan dirinya sendiri, orang tuanya dan lingkungannya.
Ketahuilah bahwa pendidikan yang hakiki adalah pendidikan yang dapat mendatangkan sikap takut kepada Alloh Ta’ala. Pendidikan yang hakiki adalah pendidikan yang dapat menjauhkan seorang anak dari kejahatan, perbuatan dosa, dan pelanggaran dari syariat Alloh. Pendidikan yang hakiki adalah pendidikan yang dapat menyelamatkan dirinya keluarganya dan umatnya dari siksa neraka.
Dengan memperhatikan pendidikan seorang anak maka setidaknya ini juga akan sebagai sarana untuk melepaskan tanggung jawab orang tuanya di sisi Alloh I. Alloh I berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.( At-Tahrim:6)
Ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa diwajibkan bagi orang-orang yang beriman untuk menjaga dirinya dan keluarganya (termasuk di dalamnya adalah anak) dari siksa api neraka. Jika kita tidak menjaga mereka dari api neraka maka jangan anggap aman kita dari siksa api neraka.Mereka adalah amanah bagi orang tuanya dan setiap amanah akan dimintai pertanggung-jawabannya. Adapun kalau kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya dan berusaha semaksimal mungkin maka paling tidak meringankan tanggung jawab kita di sisi Alloh Ta’ala.
Oleh sebab itu penting bagi orang tua untuk mencarikan pendidikan yang berkualitas yang dapat membentuk kepribadian seorang anak menjadi insan yang beriman dan yang bertaqwa kepada Alloh Ta’ala. Penting bagi orang tua untuk meneliti dan memilih pendidikan mereka sehingga harapannya dapat dicapai dengan baik. Dan penting pula bagi orang tua untuk mengawasi pendidikan mereka sehingga orang tuapun juga dapat mengambil pelajaran dari mereka.
Dengan alasan di atas maka carilah lembaga pendidikan yang berkualitas dan yang bermanfaat yang akan membantu mewujudkan mimpi anda memiliki anak yang sholeh yang berbakti kepada orang tuanya. Diantara ciri pendidikan tersebut adalah pendidikan yang dapat membentuk karekter dan pribadi yang baik adalah sebagai berikut:
1. Jika pada lembaga tersebut mengajarkan Tauhidulloh.
Tauhid adalah pondasi utama yang harus ditanamkan pada seorang anak untuk membentuk akhlaq dan perilaku yang mulia. Tanpa Tauhid mustahil seorang anak akan menjadi manusia yang mulia. Tanpa tauhid mustahil dia memiliki akhlaq yang baik, akhlaq baik kepada Robbnya maupun akhlaq baik kepada sesama manusia. Dengan tauhid seorang anak dapat mengenal Robbnya dengan baik, menumbuhkan rasa takut kepadaNya dan mejadikan anak tersebut taat kepada robbNya.
Tauhid memiliki peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena beberapa alasan di antara adalah:
a. Tidaklah Alloh menciptakan Alam kecuali untuk beribadah kepadanya dan tidaklah mengutus para Rosulnya kecuali untuk mengajak manusia kepada Tauhidulloh. Lihatlah pada Al-Qur’an ajaran pokoknya adalah agar manusia mentauhidkan Alloh dan menerangkan bahaya syirik yang menjadi penyebab kebinasaan manusia di dunia dan akherat serta kekal di neraka
b. Semua para Nabi dan Rosul memulai dakwah mereka dengan tauhid, dan inilah yang mereka diperintahkan oleh Alloh untuk menyampaikan kepada manusia. Alloh I berfirman:
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (Al-Anbiya’: 25)
c. Tauhid adalah merupakan realisasi dari syahadat Laa ilaaha illalloh Muhammadur rosuululloh, yang maknanya Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Alloh dan bahwasanya tidak ada ibadah kecuali dengan apa yang telah diajarkan oleh Rosululloh Muhammad r. Dengan kalimat tauhid inilah seorang yang kafir dapat menjadi muslim dan pada akhirnya dia dapat membuka pintu surga , selama orang tadi tidak membatalkannya dengan amalan pembatal tauhid[1].
2. Jika sekolah tersebut mengajarkan Al-Qur’an.
Al-Qur’an merupakan dasar hukum bagi manusia. Di dalam Al-Qur’an dijelaskan berbagai macam hukum dan aturan yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Al-Qur’an mengatur hubungan antara seorang hamba dengan Alloh I dan antara hamba dengan hamba yang lainnya.
Al Qur’an haruslah dipelajari dan diperkenalkan sejak usia dini, karena dia adalah pondasi dari semua ilmu sebelum ilmu-ilmu yang lain. Maka kita dapati para salafush sholih dahulu senantiasa mengajarkan kepada anak-anak mereka Al-Qur’an sejak dini , bahkan tidak hanya sekedar membaca akan tetapi juga menghafalkannya. Sehingga apabila kita melihat sejarah mereka kebanyakan mereka sudah hafal Al-Qur’an sebelum usia baligh.
Mempelajari Al-Qur’an pada usia anak-anak tidak harus dengan materi yang memberatkan, akan tetapi disesuaikan dengan kemampuan mereka.
3. Ketika sekolah tersebut mengajarkan akhlaq yang mulia.
Di antara contoh akhlaq yang mulia adalah sebagaimana yang difirmankan Alloh dalam surat Luqman ayat 13 sampai ayat ke 19 yang artinya:
13.Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui.
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa akhlaq yang mulia meliputi:
a. Syukur kepada Alloh kepada kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya
b. Tidak ada ketaatan kepada makhluq dalam bermaksiat kepada Alloh. Ketaatan hanya diperbolehkan jika berkaitan dengan kebaikan.
c. Wajibnya mengikuti jalannya orang-orang yang beriman dan peringatan dari membuat perkara-perkara yang baru dalam syariat Islam.
d. Selalu merasa diawasi Alloh baik dalam keadaan sendirian atau di depan umum. Sehingga tidak meremehkan sebuah dosa walaupun dosa kecil.
e. Wajibnya mendirikan sholat sesuai dengan rukun-rukunnya, kewajiban-kewajibannya, dan dikerjakan dengan tuma’ninah
f. Bersabar dari gangguan ketika melakukan amar ma’ruf nahi munkar
g. Larangan sombong dan angkuh ketika berjalan
h. Pertengahan dalam berjalan adalah perkara yang dituntut tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat
i. Tidak mengeraskan suara melebihi kebutuhan. Karena mengeraskan suara melebihi dari kebutuhan adalah sifatnya keledai[2].
4. Menjauhi pendidikan yang skuler dan pendidikan yang tidak mengenal agama
Sebaik apapun pendidikan yang berorientasi pada dunia maka tidak akan menjadi sempurna jika tidak ditopang dengan pendidikan agama. Sebaik apapun dunia ini maka dunia tidak akan dapat menandingi kenyamanan atau kesengsaraan di akherat. Rosululloh r pernah mengatakan tentang dunia
Demi Allah, sesungguhnya dunia lebih hina di sisi Allah daripada bangkai ini di mata kalian.” (HR. Muslim [2957])
Pendidikan yang tidak dilandasi ilmu agama adalah pendidikan yang sia-sia bagi pelakunya. Dia hanya menjadi petaka bagi pelakunya karena ilmu dunia tersebut tidak dikontrol dan ditimbang dengan baik oleh pelakunya. Jangan salahkan jika terjadi kerusakan di muka bumi ini disebabkan ilmu dunia yang tidak dibimbing dengan ilmu agama. Madhorot yang ditimbulkan jauh lebih besar dari sekedar memberikan manfaat kepada orang-orang tertentu. Lihatlah penemuan-penemuan baru yang ada di zaman ini. Jika penemuan-penemuan tersebut tidak dikontrol denagn ilmu syari, niscaya akan membawa kerusakan pada generasi kita. Apakah kita akan menukar kenikmatan yang sementara dengan siksa yang terusmenerus ?
Apakah kita tidak menginginkan nikmat yang kekal dan abadi ? Apakah kita tidak ingin ketika kita meninggal kemudian dido’akan oleh anak keturunan kita? Mari berpikir lebih rasional dan masuk akal supaya kita tidak menyesal.
Itulah di antara kriteria sekolah yang bermanfaat. Maka pandai-pandailah dalam menyekolahkan anak keturunan kita. Janganlah bermudah-mudahan dalam masalah ini sebelum datang penyesalan kepada kita. Jadikanlah anak sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Alloh dan jangan sebaliknya justru menjauhkan diri kita dari Alloh Ta’ala.
Wallohua’lam bish showab.

Penulis : Ustad Abu Islah, S.PdI

End Note:
1. Lihat Minhaj Firqotun najiyah oleh syaikh Jamil Zainu hal 32
2. Nidaaul murobbiina hal 11 oleh Syaikh Jamil Zainu cet