[gview file=”http://mp3.radiokita.or.id/buletin/66_Etika%20Bertetangga.pdf”]ETIKA DALAM BERTETANGGA DALAM SYARIAT ISLAM YANG MULIA

Corak sosial suatu lingkungan ditentukan oleh warna kehidupan bertetangga. Bila hubungan antar tetangga sangat kental dan erat, norma sosial terlukis sangat indah, inilah yang ada pada kebanyakan lapisan masyarakat pedesaan. Namun bila garis hubungan antar tetangga banyak terputus karena terkikis gaya hidup individualistik yaitu senang hidup menyendiri, maka norma sosial menjadi buram atau tercoreng, hal ini sangat banyak disaksikan pada masyarakat perkotaan.
Memilih tetangga sangat penting, mempertimbangkan siapa yang akan menjadi tetangga tidaklah sepele, karena tetangga merupakan faktor utama yang turut mewarnai keluarga kita. Sedikit banyak, lingkungan agamis akan membentuk keluarga yang agamis pula, demikian pula sebaliknya. Karenanya, syariat Islam memperhatikan dan mengatur norma-norma hidup bertetangga dan sangat sempurna.
Seorang muslim meyakini bahwa tetangganya mempunyai hak-hak atas dirinya, dan adab-adab yang harus ia jalankan terhadap tetangganya. Lantas… bagaimanakah rambu-rambu yang diletakkan oleh Islam sehingga seorang muslim bertetangga dengan benar?
Siapakah Tetangga Kita?
Dalam Surat An-Nisa’, Allah I berfirman:
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (QS. An-Nisa’ 36)
Baik tetangga yang merupakan kerabat, maupun tetangga asing yang tidak ada hubungan kekerabatan, mereka semua termasuk sebutan tetangga dalam ayat di atas. Sebagian ahli tafsir yang menjelaskan ayat di atas mengkategorikan teman dalam safar sebagai tetangga, dan salah satu bentuk berbuat baik kepadanya adalah berbagi bekal perjalanan. Dengan demikian, cakupan tetangga bersifat universal, mencakup muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman ataupun musuh, orang pendatang maupun penduduk asli, yang bermanfaat maupun yang memudharatkan, yang ada
Wasiat Rasulullah r Kepada Abu Dzar t
Tetangga kita tidak selamanya berjalan senasib dengan kita, pasti ada kala tertentu kita mendapat kelebihan rizki, sementara tetangga kita tidak mendapatnya, begitupula sebaliknya. Apa yang kita lakukan dalam kondisi tersebut?
Rasulullah r pernah berkata kepada Abu Dzar t:
“Wahai Abu Dzar, jika kamu memasak makanan berkuah maka perbanyaklah airnya dan berbagilah dengan tetanggamu.” (HR. Muslim 6855)
Rasulullah r menganjurkan untuk berakhlak mulia, dengannya tumbuh rasa cinta dan pergaulan yang baik serta segala masalah akan mudah diselesaikan. Seseorang terkadang terganggu dengan aroma masakan tetangga sebelahnya, bisa jadi memiliki anak-anak yang tergugah dengan aroma yang memancing lidah, sementara dia tergolong keluarga yang tidak mampu, rasa pedih dan sakit semakin menyiksanya. Dengan menyertakan mereka untuk ikut serta merasakan makanan yang dimasak tadi, rasa pedih dan sakit akan terobati. Dari sini nampak keindahan petunjuk Rasulullah r dengan mengajarkan Abu Dzar agar memberikan hadiah makanan tersebut kepada tetangga dekatnya.
Sementara perintah Rasulullah r untuk memperbanyak kuahnya, tujuannya untuk memperingatkan orang yang bakhil dengan peringatan yang lembut. Lantaran menambah air untuk memperbanyak kuah tidak memperlukan biaya tambahan. Beliau tidak memerintah untuk memperbanyak dagingnya, karena tidak mudah bagi setiap orang melakukannya. Dalam hadits lain Rasulullah r bersabda, “Wahai wanita-wanita mukminah, janganlah seorang wanita di antara kalian meremehkan sesuatu untuk tetangganyanya, sekalipun itu kaki kambing bakar.” (Dishahihkan Al-Albani dalam Adab Mufrad 1/58 dengan penguat riwayat yang lain)
Ibnu Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk bersedekah dengan sesuatu yang mungkin dihadiahkan, sedikit maupun banyak.” (At-Tamhid 4/301)
Dalam lafadz hadits di atas disebutkan masakan daging, namun termasuk pula makanan selain daging, karena tujuannya pesan di atas adalah berbagi kepada tetangga sekalipun dengan sesuatu yang sedikit. Dan jika hadiah yang diberikan lebih dari kuah tentu lebih baik.
Saat ini sangat mudah dijumpai orang yang tidak memiliki kepedulian sedikitpun kepada tetangganya. Dia hidup dalam kemewahan hidup dan serba lengkap. Tiap malam terlentang dengan perut yang penuh bermacam makanan dan minuman di atas ranjang empuknya. Padahal ia tahu dan yakin di sebelahnya ada tetangga dengan istri dan anak-anaknya yang beberapa malam tidak bisa tidur karena lilitan rasa lapar yang mendera. Tapi ia merasa dirinya bukanlah orang yang bertanggung jawab sama sekali dengan lapar yang mendera tetangganya. Wal iyadzu billah.
Padahal Rasulullah r bersabda, “Tidaklah beriman dengan sempurna orang yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya di sebelahnya kelaparan, dan ia tahu hal itu.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah As-Shahihah 1/140)
Dalam hidup bertetangga pun ada beberapa yang menjadi kepemilikan bersama. Seperti dinding, pagar dan semisalnya. Saat tetangga butuh meletakkan kayu di atas tembok bersama, atau tembok kita untuk dia manfaatkan, tidak layak dilarang dan dicegah. Rasulullah r bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah t :
“Tidak pantas seorang melarang tetangganya untuk menencapkan sebatang kayu di dindingnya”. Lalu Abu Hurairah berkata, ‘Mengapa aku lihat kalian berpaling darinya?! Demi Allah, akan aku lempar dengan kayu tersebut di bahu kalian.’ (HR. Bukhari 2463 dan Muslim 4215)
Hal semacam ini juga sering diremehkan dan banyak orang yang kurang perhatian, yaitu saling berlapang dada dan bermurah hati kepada tetangganya. Misalkan tetangga kita ingin menancapkan paku untuk mem-bentangkan talinya untuk suatu kebutuhannya sementara itu tidak membahayakan kita, selayaknya kita mengizinkannya.
Mengajarkan Agama Kepada Tetangga
Hendaklah seorang muslim memiliki pengaruh yang baik dalam lingkungan sekelilingnya, keberadaannya membawa kebaikan dan tidak semata-mata menjadi anggota masyarakat yang ada atau tidaknya sama saja. Itulah pentingnya berdakwah kepada jalan Allah, menyeru dan mengajak manusia agar beragama Islam, mengajarkan mereka bagaimana menjadi muslim yang sempurna dan menerapkan syari’atnya dengan benar.
Dakwah bukan berarti melakukan perjalanan untuk mengadakan acara kajian atau semisalnya. Namun dimulai dari rumah yang ia huni, memulai dengan anggota keluarga yang tinggal satu atap dengannya, mengajarkan ilmu agama kepada istri dan anak-anaknya, memperhatikan kondisi ibadah dan ketaatan mereka. Jika sudah dilakukan, maka dakwah dan mengajarkan agama dilakukan meluas kepada tetangga sekitar, dan begitu seterusnya. Dimulai dari yang terdekat lalu yang dekat dan seterusnya.
Banyak kita jumpai anak-anak tetangga kita yang tidak bisa membaca Al-Qur’an, sementara orang tuanya kurang peduli dengan agama anaknya, dan terkadang di suatu tempat tidak dijumpai pula guru agama yang meluangkan waktunya untuk duduk mengajarkan Al-Qur’an. Maka sebuah keburukan kalau kita memalingkan muka dan membalikkan badan membiarkan anak-anak mereka tidak tahu agamanya.
Jika bisa berbuat baik kepada tetangga dengan memberi hadiah dan hal-hal yang bersifat kebutuhan duniawi, maka berbuat baik kepada mereka dalam kebutuhan akhirat tentu lebih dituntut.
Termasuk dalam hal ini saling mengingatkan antar tetangga dalam hal kebaikan. Seperti mengingatkan datang ke masjid untuk shalat berjamaah bagi laki-laki, mengingatkan untuk memakai pakaian yang menutup aurat terutama bagi wanita, dan seterusnya. Kemudian jika nampak suatu kemungkaran, ada sikap saling menasehati untuk meninggalkannya. Tentunya semua ini dilakukan dengan cara yang baik dan lembut. Tidak dengan cara kasar apalagi sampai memata-matai tetangga, dan ikut campur segala urusannya, maka ini terlarang.
Sangat banyak jalan untuk berbuat baik kepada tetangga yang bermaslahat bagi agama mereka, seperti mengajak ikut serta untuk menghadiri pelajaran agama atau acara ilmiah. Tujuannya agar ia turut mendapatkan manfaat dan faidah. Dan memberi hadiah yang bermanfaat bagi agamanya, seperti hadiah buku agama atau rekaman kajian ilmiah yang bermanfaat serta saling mendoakan untuk mendapat hidayah. Rasulullah r bersabda:
“Barangsiapa yang mengajak kepada sebuah petunjuk maka dia mendapatkan pahala semisal pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dan barangsiapa yang mengajak kepada sebuah kesesatan maka dia mendapatkan dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR. Muslim 6980)
Bila Tetangga Berbuat Buruk
Tidak semua tetangga kita shalih dan baik, ada pula tetangga yang buruk, keberadaannya di dekat kita menyusahkan, terlebih tetangga pendatang yang datang dan tinggal sementara untuk tujuan pekerjaan.
Sudah menjadi fenomena betapa banyak tetangga yang meletakkan tempat sampahnya di depan halaman tetangganya, betapa banyak tetangga yang meminjam barang lalu tidak mengembalikannya, betapa banyak tetangga yang amanah dalam kesepakatan, dan betapa banyak orang baik yang pergi mencari tempat lain lantaran tidak tahan dengan gangguan tetangganya. Maka bersabar atas gangguan adalah akhlak yang agung dan mulia. Dan membalas keburukan mereka dengan kebaikan adalah lebih utama. Sekalipun ia berhak dan diperbolehkan membalas dengan keburukan yang serupa. Allah I berfirman:
“Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (cara) yang lebih baik, Kami lebih Mengetahui apa yang mereka sifatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Mu’minun 96)
Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata, ‘Jika ada orang yang memusuhimu berbuat buruk kepadamu dengan perkataan atau perbuatannya maka jangan dibalas dengan keburukan pula, sekalipun dibolehkan membalas keburukannya dengan keburukan yang sama, namun balaslah keburukan mereka dengan berbuat baik kepada mereka, itu merupakan keutamaan bagimu. Di antara maslahatnya adalah meredam keburukan mereka kepadamu saat itu atau di masa mendatang, dan hal itu lebih memudahkan orang yang berbuat buruk untuk diajak kepada kebenaran, dan membuatnya menyesal dan meminta maaf serta bertaubat dari perlakuannya.’ (Tafsir As-Sa’di hlm. 558)
Bila diperlukan maka dengan mendatangkan orang lain yang mampu mengingatkannya dari kemaksiatannya. Adapun jika dipandang tidak bisa bertahan dari gangguannya dan tidak ada jalan lain kecuali berpindah dan mencari tempat tinggal yang lain maka memandang yang lebih bermaslahat. Wallahu a’lam.
Akhirul kalam, semoga sedikit yang kami tuliskan ini menjadi motivasi bagi kita untuk berbuat baik kepada siapapun terlebih kepada tetangga kita, di masa banyak orang sudah tidak lagi peduli dengan tetangganya. Kepada Allah kita memohon petunjuk dan maghfirah-Nya. Aamiin yaa Rabbal Aalamiin.
Rizqu